Cubism View & Mata Sumba for OWP Design Contest

One day i made a submission for OWP Design Contest (the day that i forgot when, oh well). I didn’t win, but surely i had a wonderful time making it! Here they are:

1. Cubism View

The “Cubism View” represents the world beyond real. The creativity shown in a strong yet bold design. I adore cubism, as well as share the world of how beautiful art is.

2. Mata Sumba

“Mata Sumba” offers a rich Indonesian local tradition value to the world. I’d love to introduce ‘Kain Ikat Sumba’. a soon-to-be one of UNESCO’s World Heritage in 2013. It has a touch of ethnic and tradition, as well as rich in earthy colours in it.

Shall we talk about design & culture? Drop some notes! 🙂

My First Garage Sale

Seumur-umur, saya nggak pernah berfikir untuk ikutan garage sale. Saya lebih senang membeli, paling senang lagi sih ke tempat-tempat yang lumayan murah dan second seperti Pasar Jumat Salman di depan kampus Ganesha Bandung, atau di Gedebage (yang kini tidak murah lagi). Saya lebih senang membeli, meskipun tahu sebenarnya uangnya juga nggak ada-ada banget.

Sabtu kemarin, kali pertama saya mengikuti garage sale. Awalnya agak-agak ragu karena belum pernah, dan saya pun kurang suka nungguin sesuatu yang nggak pasti (maksudnya pembeli), lagipula tipe yang mudah tersinggung kalau ada adegan tawar menawar (makanya lebih senang ke supermarket yang ada harga pasti).

Namun, selalu ada kali pertama. Garage sale kemarin yang merupakan kopi darat pertama antara saya, Diani, Sida dan Dee yang berlangsung di Teaspoon -Benda, Kemang itu berlangsung cukup membekas. Kenapa?

Pada akhirnya saya merasakan yang namanya nungguin barang jualan. Sehingga jadi tahu, oh ini toh yang namanya nungguin pelanggan. Ini toh rasanya jadi mbak-mbak bengong di ITC atau pasar yang suka saya liatin dari sisi orang yang cuma lewat. Ini toh rasanya menanti, selama kurang lebih 7 jam silih berganti mulai dari panas sampai masuk angin dan ekstra dinyamukin.

Pada akhirnya saya melihat varian cara gimana orang bisa laku jualannya. Mulai dari display yang menarik, effort lebih untuk menggunakan gantungan, jumlah pakaian yang se abrek abrek, harga yang ditawarkan, cara bicara dan tawar menawar; tentu saja kita ngomongin konteks garage sale ya, bukan tawar menawar bajaj.

However, selalu ada kali pertama. Dan biasanya kali pertama itu menjadi masukan untuk kali berikutnya bukan? Dari sini saya bisa melihat dan merencanakan lebih matang untuk garage sale berikutnya, seperti:

  1. Display yang lebih oke. Invest gantungan deret, seru juga! Nggak kepakai sekarang, belum tentu nanti nggak kepakai.
  2. Lihat lokasi. Apakah lokasinya baik dan bagus untuk jadi tempat garage sale? Banyak nggak sih yang lewat? Strategis? Jika tidak, kira2 penyelenggaranya terkenal nggak di mata banyak orang sehingga orang-orang akan segitunya untuk datang dan membeli?
  3. Harga dan penempatan barang. Paling enak kalau didata dan dibagi menjadi + 3 harga seperti 5000 – 15000 dan 15000 – 30000 dan 30000 – 50000 jadi orang enak membacanya. Lalu label harga mungkin bisa pakai yang lem nya kuat (biar nggak jatuh-jatuh) atau diniatin pakai tali dan karton biar cantik!
  4. Obat capek dan bosen. Buku, laptop, music player, sampai kursi! Penting kalau capek jadi bisa lebih tenang menjaganya. Dan mungkin Autan….

Pada akhirnya sebenarnya enaknya garage sale itu, sesuatu hal yang produktif. Kita bisa membersihkan isi lemari, mengubahnya menjadi uang (atau bahkan barang lain?) dan rasa puas, senang yang luar biasa!

Garage sale lagi yuk! 😉

Ditengah pr finance, berita itu pun datang

Ini judulnya sih kelewatan berlebihan. Pasalnya:

  1. Saya emang lagi ambil kuliah lagi, tapi pr finance ini maksudnya adalah: minta temen kirimin, liat jawaban, dan sedikit modifikasi seperti ganti font dan spasi dijadiin 1,15.
  2. Berita- yang dimaksud juga nggak seheboh itu sih kesannya.

Jadi gini,

Saya lagi asik-asik mengunyah makan siang kelewatan (jam 2 lah) di sebuah warteg rada tersohor bilangan Tubagus Ismail namanya Tegal Abadi. Jadi ini warteg emang favorit dari jaman saya ambil s1 sekitar 6,5 tahun lalu gara2….saya cuma tau itu aja…. Akhirnya keterusan dan nyaman banget sampai-sampai saya ngehabisin 2 jam buat makan disambi baca komik rental toko sebelah warteg. Lho ini kok jadi cerita warteg?

Jadi gini,

Sebenarnya hari yang sama itu, sekelas lagi heboh pr finance yang tiap minggu harus dikumpulin. Ada case yang harus dibahas lah. Masalahnya, dari antara 25 anak di kelas, yang paham finance sekitar 1/4 nya karena kita semua basis s1 nya beda2 dan yang jago itung2an duit hanya ya…segelintir. Bagi saya, yang namanya Freeflow Cash itu adalah tebar-tebar uang dari helikopter. Titik. Nggak pakai tapi. Awas kalau ada yang nambahin!! Lho ini kok jadi cerita finance sih?

Jadi gini,

Cerita yang menghebohkan itu sebenarnya hanya saya aja yang heboh. Pasalnya, teman sekelas s1 dulu dikabarkan telah menikah. Atau tunangan? Entahlah yang penting ada foto kebayaan dan cowoknya pakai jas sambil nunjukin cincin. Dan sahabat saya minggu kemarin baru aja menikah juga. Dan teman saya yang temannya teman yang cerita 1 tadi pun belum lama tunangan. Dan banyak sekali undangan pernikahan di Facebook wira wiri kemana-mana sampai saya bosan klik tombol Attending-Maybe-Not Going. *ngamuk-ngamuk nggak jelas*. Lho, memangnya apa yang salah?

Jadi gini,

Biasa lha ya emang dasar pikiran pihak yang belum ada pasangan selalu kayak gini. (Selalu? Elo aja kali.) (Iya emang gue aja! Terus kenapa? Kalau nggak gini kan gada postingan ini!Huh), batin saya berisik banget ya? Ah biarkan saja mereka berkecambuk sendirian, saya mah tangannya jalan terus di tombol keyboard laptop. Asik ngerumpi. Ya nggak?

AHH. Intinya adalah: banyak banget sih yang nikah? Saya….mikirin pacaran sejujurnya belum. Pernah diramalin ama temen smp dulu: “Kamu…akan dapat pasangannya lama. Satu, tapi untuk selamanya”. Saya pikir2 benar juga sih ya. Soalnya ya:

  1. Seperempat dari 100 tahun begini belum ada. Optimis sih umur panjang, mikirnya juga jalan masih lama. Ikan masih banyak. Ntar juga dapet nggak usah buru-buru.
  2. Orangnya choosy banget sih. (Chosy Lattu? Bukan!)
  3. Dan ya kepalanya juga belum mikirin ke arah sana. Belum tahu rasanya pacaran. Biasa apa-apa sendiri jadi ya ngerasa belum butuh aja.

Sebenarnya, berpasangan, buat kalian, buat apa sih? Share dong (meski pertanyaan ini basi banget ya setidaknya saya jadi dapet elmu elmu (bukan elmu kebatinan ya) romansa…. ). Aih mak!

*kecup kecup kalian sembarangan*

Unplanned unthinkable, works!

Kadang ada beberapa rencana yang saking matangnya sampai tidak jadi. Saking dipikirkannya sampai kelupaan. Bisa jadi karena sebenarnya tidak didukung oleh alam semesta (antara yang diajak juga nggak sepenuhnya mau ikutan atau yang masih iya iya nggak bingung bimbang) atau ya memang lagi nggak aja.

Namun yang seru itu, ketika ada rencana yang sebenarnya nggak direncanakan sama sekali dan ujug-ujug terjadi! Dan sukses! Kenapa dibilang sukses mungkin lebih kepada unsur surprisenya? Bisa jadi!

Jadi hari ini (Rabu) saya itu baru balik dari Jakarta ke Bandung. Dan diajak untuk ngejam ngejam an (karena pada nggak pandai main musik tapi mau tampil aja) di Aru studio. Yang tadinya nggak mau karena bawaan dirasa agak berat sehingga malas, ealah malah jadi. Galau tingkat tinggi sampai ganti angkot 3 kali. Dan akhirnya pun ke studio dan…salah booking pula saudara-saudara sekalian… Walhasil kamu berenam mengalami kegalauan akut dan memutuskan seenaknya ke PVJ.

Bersandinglah ke Pizza é Birra yang ternyata, lagi ada acara pembukaan. Beserta seorang DJ. What surprised me is: akirnya saya makan pizza apel!! Padahal udah ngidam apple pie nya Croisant de France. Mission: accomplished!

What surprised me part 2 is: Ada lagu Dreams nya The Corrs (yang ternyata aslinya punya si Fleetwood Mac) versi remix yang super duper membangkitkan kenangan dan enaknya nggak usah ditanya!! Jadi terharu…

And another happy part: habis itu berhasil memaksa teman setengah teller dan mengantuk untuk asik asikan di Inul Vista uyeahh!! We sang for about…10 songs dengan suasana setengah mengantuk tapi happy. Hihiyy!

Then we go straight to MBA lalu tak disengaja pun balik-balik malah mampir warung pak Gisin depan FSRD ITB. Pada pesan makan (tinggal sisa 2 personil) dan sayapun menghabiskan lauk dari simbok. (Nggak kira2 ada ati ampela opor ayam udang tempe dan oseng tahu toge…..) 😐

I love today i love today i love today!

Nama menunya: Fiona Apple. ENAK BANGET SUMPAH