Introduce me : Eliana

Baru dalam hitungan minggu, Eliana menggeluti dunia maya. Pada awalnya ia mengira bahwa kehidupan ‘seperti itu’ adalah hal – hal yang sia-sia. Untuk apa menggunakan internet? Toh ia punya sekian banyak buku, ia rajin membaca koran, ia suka bersandang ke toko buku import setiap hari sepulang kerjanya, ia pun gemar berjalan sendirian, menyusuri gelimang hiruk pikuk jalan beserta gang-gang kelam kota, bertemu sekian banyak pasang mata dengan cerita mereka masing-masing, berbicara dan bercanda, menyelami segala lika liku kehidupan yang terpaparkan dalam sekian banyak mulut yang bercerita kepadanya, Eliana suka mewawancarai mereka yang ia ketemui di jalan, semuanya membuat Eliana sebagai pribadi yang ramah.

Hanya saja Eliana kesepian.

Hampir tujuh perdelapan isi otak nya dipenuhi oleh sekian ratus juta hasil pengamatannya, berpuluh-puluh miliar pengetahuan, Eliana tak mau dibilang jenius atau apalah. Tidak, dia tak mau disebut sebagai seorang ilmuwan atau orang pintar. Eliana memang pintar, lebih tepatnya, cerdas. Dia tak begitu tahu rumus-rumus matematika ataupun kimia. Tapi segudang pengetahuan yang tertimbun di kepalanya menutup ‘sedikit’ dari kekurangannya tersebut.

Eliana kesepian sebenarnya.

Hampir seluruh hidupnya ia gunakan untuk dirinya. Eliana merapa sangat puas jika dia bisa menyerap semua pengetahuan yang ada. Eliana senang jika kebaikannya bisa menyenangkan orang banyak. Eliana bahagia jika melihat senyum, tawa, dan sapaan ramah dari semua orang dari segala jenis kalangan kepadanya. Eliana merasa sangat luar biasa jika dia berhasil memperhatikan dan menemukan segala detail, kelebihan dan kekurangan dari setiap benda maupun orang maupun apapun yang ia temui.

Tapi Eliana merasa sangat kesepian.

Sekian banyak keberhasilan, kepuasan, kemudahan yang ada tidak membuat Eliana terpuaskan. Eliana merasa tidak puas, bukan..bukan tidak puas, lebih tepatnya hampa. Eliana menrasa hampa? Mengapa hampa?

Eliana ingin merasakan apa yang dinamakan romansa

Eliana terlalu sibuk dengan menggali ilmu dan pengetahuan. Sibuk akan
kegiatan kemanusiaan. Sibuk dengan semua yang membuat Eliana sibuk. Eliana merasa seperti robot. Eliana bisa melakukan semuanya sendiri, karena Eliana merasa mampu, dan apalagi yang dibutuhkan seseorang untuk bis amelakukan sesuatu selain keyakinan diri? Eliana merasa yakin sekali. Oleh karena itu sepertinya Eliana merasa kalau Eliana menjadi terlalu ‘tinggi’.

Eliana tidak begitu suka hal ini.

Segala yang ia punya dirasa belum sempurna. Eliana merasa hampa akan cinta.

..

Suatu saat ketika sedang berjalan seperti biasa, di dalam sebuah gang, menuju ke arah peraduannya, Eliana menyaksikan sebuah senyum, disusul sebuah tawa yang menurut Eliana berbeda. Eliana menghampiri orang tersebut, duduk di sekitarnya, dan memperhatikan segala tingkah lakunya. Sampai sedalam-dalamnya.


[01: 37] rsvp: nice to know you
[01: 37] elieliana: you’re welcome. I’m very pleased too..
[01: 39] rsvp: i was wondering, can we meet?
[01: 39] rsvp: i mean, talk to you face to face.
[01: 42] rsvp: so?
[01: 42] Meebo Message: elieliana is offline

capture3

Eliana sudah tiga minggu melakukan chatting dengan seseorang yang ia kenal melalui dunia maya. Berkat sekali ketukan pada apa yang ia pegang sekarang ini, ia dapat menjelajah sekian banyak informasi. Eliana memiliki keasikan sendiri sekarang. Eliana seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan enaknya permen. ia ketagihan.

Eliana sudah tiga minggu merlakukan chatting dengan seseorang yang ia kenal melalui dunia maya. Seseorang yang membuatnya impress dan mengetahui ada seseorang yang juga memiliki pemikiran yang kurang lebih sama dengan Eliana. Eliana merasa senang. Eliana menjadi suka. Eliana lama kelamaan mengalami apa yang dinamakan romansa.

Tapi Eliana merasa ia menjadi gila

Eliana mempertanyakan kemana semua pemikiran hebatnya? Kemana tujuh perdelapan isi otaknya? Kemana semua pengetahuan yang ia timbun selama ini? Kemana larinya mereka semua? Eliana berusaha mencari penyebab sirnanya kemampuannya. Eliana menggali virus kecil yang mengganggu kehidupannya.

Eliana menemukan sebabnya. Rasa kesepian yang telah beranjak sirna itulah penyebabnya. Seperdelapan rasa suka dan cinta dan apalah yang disebut orang-orang sebagai ‘hal yang menyenangkan’ itu telah hampir memenuhi seperdelapan isi otaknya. Eliana sangat khawatir ia tak memiliki space lebih untuk menambah wawasan lagi. Eliana takut seperdelaan itu akan merenggut tujuh perdelapan lainnya dan mendorongnya keluar. Eliana bingung. Eliana tidak mau hal itu terjadi.

Dan makanya, Eliana masih merasa kesepian.

Advertisements

About Alicemodjo

[copy]writer . illustrator . vocal player living in a place where imagination is the only key to make it real

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: