Kek, Menyerahlah!

Tiap hari kakek pakai celana pendek yang bagi saya seperti hotpants perempuan muda. Mungkin di era 70an, celana tenis itu cocok diterapkan, tapi gelambir dan kerutan di paha kakek itu lho, saya nggak nahan! “Biar hemat AC, kan jadi banyak angin”, kata Kakek.

Tiap hari kakek ngabisin setidaknya 1 bungkus rokok. Belum lagi kalau diam-diam bakar cerutu simpanan jaman dulu yang katanya, “Disayang-sayang ah”. padahal kakek sudah tua. Kan menurut usia biologis, kakek sebentar lagi meninggal, mbok ya disayang-sayang gitu.

“Umur kan siapa yang nentuin. Bisa saja yang muda yang duluan dipanggil”. Ah Kakek, itu mah kata-kata klise para perokok. Giliran ngeles, baru deh bawa-bawa Tuhan.

Kek, menyerahlah! Malu sama kerut diwajah. Apa kata guratan guratan di tangan, hasil kerja keras. Sebandingkah dengan asap yang berkumpul di paru-paru? Kakek nih ngeyelnya bisa saja. “Ngerokok bikin tenang”, kata Kakek saat itu. “Tenang-tenang menghanyutkan?”, jawabku.

Tuh kan Kakek, salah sendiri kan. Akhirnya meninggal deh. Komplikasi paru-paru sama ginjal. Banyak rokok, banyak kopi. Mungkin kalau kakek menganut pola hidup sehat, bisa saja meninggalnya sama waktunya, hanya caranya berbeda. Kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama sambil melanjutkan cerita Mahabarata, atau kisah klasik jaman baheula, sambil memandikan para perkutut dan jalak peliharaan.

About Alicemodjo

[copy]writer . illustrator . vocal player living in a place where imagination is the only key to make it real

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: