My First Garage Sale

Seumur-umur, saya nggak pernah berfikir untuk ikutan garage sale. Saya lebih senang membeli, paling senang lagi sih ke tempat-tempat yang lumayan murah dan second seperti Pasar Jumat Salman di depan kampus Ganesha Bandung, atau di Gedebage (yang kini tidak murah lagi). Saya lebih senang membeli, meskipun tahu sebenarnya uangnya juga nggak ada-ada banget.

Sabtu kemarin, kali pertama saya mengikuti garage sale. Awalnya agak-agak ragu karena belum pernah, dan saya pun kurang suka nungguin sesuatu yang nggak pasti (maksudnya pembeli), lagipula tipe yang mudah tersinggung kalau ada adegan tawar menawar (makanya lebih senang ke supermarket yang ada harga pasti).

Namun, selalu ada kali pertama. Garage sale kemarin yang merupakan kopi darat pertama antara saya, Diani, Sida dan Dee yang berlangsung di Teaspoon -Benda, Kemang itu berlangsung cukup membekas. Kenapa?

Pada akhirnya saya merasakan yang namanya nungguin barang jualan. Sehingga jadi tahu, oh ini toh yang namanya nungguin pelanggan. Ini toh rasanya jadi mbak-mbak bengong di ITC atau pasar yang suka saya liatin dari sisi orang yang cuma lewat. Ini toh rasanya menanti, selama kurang lebih 7 jam silih berganti mulai dari panas sampai masuk angin dan ekstra dinyamukin.

Pada akhirnya saya melihat varian cara gimana orang bisa laku jualannya. Mulai dari display yang menarik, effort lebih untuk menggunakan gantungan, jumlah pakaian yang se abrek abrek, harga yang ditawarkan, cara bicara dan tawar menawar; tentu saja kita ngomongin konteks garage sale ya, bukan tawar menawar bajaj.

However, selalu ada kali pertama. Dan biasanya kali pertama itu menjadi masukan untuk kali berikutnya bukan? Dari sini saya bisa melihat dan merencanakan lebih matang untuk garage sale berikutnya, seperti:

  1. Display yang lebih oke. Invest gantungan deret, seru juga! Nggak kepakai sekarang, belum tentu nanti nggak kepakai.
  2. Lihat lokasi. Apakah lokasinya baik dan bagus untuk jadi tempat garage sale? Banyak nggak sih yang lewat? Strategis? Jika tidak, kira2 penyelenggaranya terkenal nggak di mata banyak orang sehingga orang-orang akan segitunya untuk datang dan membeli?
  3. Harga dan penempatan barang. Paling enak kalau didata dan dibagi menjadi + 3 harga seperti 5000 – 15000 dan 15000 – 30000 dan 30000 – 50000 jadi orang enak membacanya. Lalu label harga mungkin bisa pakai yang lem nya kuat (biar nggak jatuh-jatuh) atau diniatin pakai tali dan karton biar cantik!
  4. Obat capek dan bosen. Buku, laptop, music player, sampai kursi! Penting kalau capek jadi bisa lebih tenang menjaganya. Dan mungkin Autan….

Pada akhirnya sebenarnya enaknya garage sale itu, sesuatu hal yang produktif. Kita bisa membersihkan isi lemari, mengubahnya menjadi uang (atau bahkan barang lain?) dan rasa puas, senang yang luar biasa!

Garage sale lagi yuk! 😉

Advertisements

About Alicemodjo

[copy]writer . illustrator . vocal player living in a place where imagination is the only key to make it real

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: