Eli tinggal sendiri di sebuah kota di mediterania. Pekerjaannya bagus, penampilannya rapi, jawabannya selalu: “I’m doing okay now.”. Tidak ada yang tahu bahwa hidupnya berjalan dalam dualitas.
Siang hari ia adalah versi yang semua orang kenal – hadir di rapat, membalas pesan, tersenyum di depan layar, ikut makan bersama di pantry. Tapi di dua waktu yang berbeda — malam dan subuh — ia adalah versi yang tidak ada yang lihat – meringkuk, menghitung menit, menunggu obat bekerja.
Dua kapsul, biasanya. Algofren 600 mg dan Buscopan Plus. Ditelan dengan air putih, kadang sambil berdiri, kadang sambil duduk di lantai samping kasur. Sudah hafal dosisnya, sudah hafal waktunya. Dua jam — kalau beruntung — sebelum rasa sakit kembali mengambil alih.
Adenomyosis tidak minta izin. Tidak peduli ada presentasi besok pagi, tidak peduli badan sudah lelah sejak Senin. Ia datang, dan Eli tidak punya pilihan selain berkompromi.
Dua tahun sejak diagnosis. Dua tahun menunggu cukup uang untuk operasi. Dua tahun tanpa asuransi di negara orang. Dua tahun belajar bahwa tubuhnya adalah sesuatu yang harus ia kelola, bukan sesuatu yang bisa ia percaya sepenuhnya.
Melupakan bukan berarti tidak ingat. Melupakan, bagi Eli, artinya tetap jalan. Tidak larut. Tidak membiarkan rasa sakit menjadi satu-satunya cerita hari itu. Tapi ada malam-malam di mana strategi itu tidak cukup.
Pukul dua pagi. Obat belum bekerja, atau mungkin sudah berhenti bekerja — ia tidak lagi bisa membedakan saking seringnya. Yang ia tahu hanya satu: ia lelah sekali. Bukan hanya lelah sakit. Lelah pura-pura kuat. Lelah sendirian. Lelah jauh.
Dan dari tempat itu — diatas kasur, gelap, dua detik setelah serangan sensasi menusuk tajam di rahim, disertai napas tertahan — keluarlah satu kata: “Mama.”
Bukan telepon. Bukan pesan. Hanya nama itu, diucapkan ke udara, ke dinding, ke tidak ada siapa-siapa. Dua suku kata yang selama ini ia tahan. Ia menangis menggerung-gerung sampai habis. Rasanya rindu sekali sama sosok mama. Sampai tubuhnya menyerah ke kantuk.
Pagi datang. Alarm berbunyi pukul 5.30. Eli bangun, ke kamar mandi, menelan dua kapsul — lebih awal dari biasanya, antisipasi. Membunuh waktu sambil melihat lini waktu Instagram. Tertera ‘Adenomyosis Awareness Month’. Eli tersadar, “Oh iya sudah masuk April”. Kembali menarik selimut, menyetel alas punggung listrik panas-nya ke angka 2. Memejamkan mata, bersiap untuk episode kram pagi harian-nya.

Leave a comment