Aku tumbuh besar hanya dengan Ibuku. Bukan karena ada yang pergi – tapi karena memang begitulah yang selama ini dirasakan normal. Ayah bukan sesuatu yang aku rindukan atau pertanyakan. Ia tidak hadir, dan aku tidak merasa kehilangan.
Satu-satunya ingatan samar: seorang pria asing mendekati di mobil antar jemput di suatu rumah di Mampang, mengaku sebagai ayah. Aku bingung dan bertanya-tanya: ayah itu apa? Waktu itu aku sekitar enam tahun.
Bertahun-tahun berlalu. Aku kuliah, punya teman, punya hidup. Sosok ayah tidak pernah menjadi bagian dari cerita itu – bukan karena disimpan dalam-dalam, namun karena memang tidak ada cerita yang perlu disimpan.
Suatu siang di tahun 2006, aku sedang asik makan capcai di warung. Telepon berbunyi. Ibuku bilang, “Ayahmu meninggal”. Aku terdiam sebentar lalu bertanya, “Oh, dimana dia?”. Ibu menjawab, “Di kotamu.” Selama ini aku satu kota dengan sosok ayah – dan tidak pernah tahu.
Aku menghubungi seorang teman yang tahu daerah itu. Besok paginya aku dan beberapa teman naik Mitsubishi Kuda ke lokasi. Aku sejujurnya tidak tahu persis kenapa harus pergi, padahal telepon Ibuku hanya bernada memberi informasi. Bukan arahan.
Ketika tiba, seorang pria mengaku paman, menghampiri. Aku mengikuti sampai ke suatu rumah. Terbaring dihadapanku saat itu berbalut kain kafan, orang yang hanya aku kenal sebagai sebuah konsep: ayah.
Orang-orang terisak. Aku mencoba, namun air mata tidak datang. Tidak ada kenangan yang bisa ditangisi. Tidak ada amarah yang menumpuk, maupun pertanyaan yang belum terjawab. Yang ada hanyalah satu perasaan aneh yang sulit dinamai – sesuatu yang diam, sesuatu yang selesai, tanpa pernah benar-benar dimulai.
Selang beberapa hari kemudian, kami makan bareng di Punclut. Di tengah sejuknya suasana, seseorang bertanya padaku: “Gimana sih rasanya kehilangan ayah?”. Aku berfikir cukup keras lalu menjawab: “Biasa saja. Lagipula, bagaimana kamu bisa merasa kehilangan sesuatu yang tidak pernah kamu punya?”
Tapi flashback di hari pemakaman, aku berdiri di depan sosok yang akhirnya punya wajah. Akhirnya aku bersama ayah lebih dari 5 menit. Akhirnya aku dengan kesadaran penuh, bersamanya untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
Aku menyadari satu hal kecil: aku tidak menyimpan dendam. Tidak ada yang perlu dimaafkan secara formal. Tidak ada adegan rekonsiliasi, maupun kata-kata yang tertunda.
Memaafkan, ternyata, bisa semudah ini: tidak pernah marah sejak awal. Dan diam-diam tanpa disadari, mungkin itu bentuk memaafkan yang paling jujur.
Mission accomplished. Setidaknya, sekarang aku tahu wajahnya.
Versi illustrasi:

Leave a comment